Jumat, 09 Mei 2008

Empat Pilar Belajar

Untuk menghadapi dan menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan dunia yang sangat cepat, Unesco (Nana Syaodih Sukmadinata, 2005) merumuskan empat pilar belajar, yaitu: belajar mengetahui (learning to know), belajar berkarya (learning to do), belajar hidup bersama (learning to live together), dan belajar berkembang secara utuh (learning to be).

1. Belajar mengetahui (learning to know)
Belajar mengetahui berkenaan dengan perolehan, penguasaan dan pemanfaatan informasi. Dewasa ini terdapat ledakan informasi dan pengetahuan. Hal itu bukan saja disebabkan karena adanya perkembangan yang sangat cepat dalam bidang ilmu dan teknologi, tetapi juga karena perkembangan teknologi yang sangat cepat, terutama dalam bidang elektronika, memungkinkan sejumlah besar informasi dan pengetahuan tersimpan, bisa diperoleh dan disebarkan secara cepat dan hampir menjangkau seluruh planet bumi. Belajar mengetahui merupakan kegiatan untuk memperoleh, memperdalam dan memanfaatkan pengetahuan. Pengetahuan diperoleh dengan berbagai upaya perolehan pengetahuan, melalui membaca, mengakses internet, bertanya, mengikuti kuliah, dll. Pengetahuan dikuasai melalui hafalan, tanya-jawab, diskusi, latihan pemecahan masalah, penerapan, dll. Pengetahuan dimanfaatkan untuk mencapai berbagai tujuan: memperluas wawasan, meningkatakan kemampuan, memecahkan masalah, belajar lebih lanjut, dll.
Jacques Delors (1996), sebagai ketua komisi penyusun Learning the Treasure Within, menegaskan adanya dua manfaat pengetahuan, yaitu pengetahuan sebagai alat (mean) dan pengetahuan sebagai hasil (end). Sebagai alat, pengetahuan digunakan untuk pencapaian berbagai tujuan, seperti: memahami lingkungan, hidup layak sesuai kondisi lingkungan, pengembangan keterampilan bekerja, berkomunikasi. Sebagai hasil, pengetahuan mereka dasar bagi kepuasaan memahami, mengetahui dan menemukan.
Pengetahuan terus berkembang, setiap saat ditemukan pengetahuan baru. Oleh karena itu belajar mengetahui harus terus dilakukan, bahkan ditingkatkan menjadi knowing much (berusaha tahu banyak).

2. Belajar berkarya (learning to do)
Agar mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dalam masyarakat yang berkembang sangat cepat, maka individu perlu belajar berkarya. Belajar berkarya berhubungan erat dengan belajar mengetahui, sebab pengetahuan mendasari perbuatan. Dalam konsep komisi Unesco, belajar berkarya ini mempunyai makna khusus, yaitu dalam kaitan dengan vokasional. Belajar berkarya adalah balajar atau berlatih menguasai keterampilan dan kompetensi kerja. Sejalan dengan tuntutan perkembangan industri dan perusahaan, maka keterampilan dan kompetisi kerja ini, juga berkembang semakin tinggi, tidak hanya pada tingkat keterampilan, kompetensi teknis atau operasional, tetapi sampai dengan kompetensi profesional. Karena tuntutan pekerjaan didunia industri dan perusahaan terus meningkat, maka individu yang akan memasuki dan/atau telah masuk di dunia industri dan perusahaan perlu terus bekarya. Mereka harus mampu doing much (berusaha berkarya banyak).

3. Belajar hidup bersama (learning to live together)
Dalam kehidupan global, kita tidak hanya berinteraksi dengan beraneka kelompok etnik, daerah, budaya, ras, agama, kepakaran, dan profesi, tetapi hidup bersama dan bekerja sama dengan aneka kelompok tersebut. Agar mampu berinteraksi, berkomonikasi, bekerja sama dan hidup bersama antar kelompok dituntut belajar hidup bersama. Tiap kelompok memiliki latar belakang pendidikan, kebudayaan, tradisi, dan tahap perkembangan yang berbeda, agar bisa bekerjasama dan hidup rukun, mereka harus banyak belajar hidup bersama, being sociable (berusaha membina kehidupan bersama)

4. Belajar berkembang utuh (learning to be)
Tantangan kehidupan yang berkembang cepat dan sangat kompleks, menuntut pengembangan manusia secara utuh. Manusia yang seluruh aspek kepribadiannya berkembang secara optimal dan seimbang, baik aspek intelektual, emosi, sosial, fisik, maupun moral. Untuk mencapai sasaran demikian individu dituntut banyak belajar mengembangkan seluruh aspek kepribadiannya. Sebenarnya tuntutan perkembangan kehidupan global, bukan hanya menuntut berkembangnya manusia secara menyeluruh dan utuh, tetapi juga manusia utuh yang unggul. Untuk itu mereka harus berusaha banyak mencapai keunggulan (being excellence). Keunggulan diperkuat dengan moral yang kuat. Individu-individu global harus berupaya bermoral kuat atau being morally.


Sumber : http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/05/08/empat-pilar-belajar/
Diterbitkan Mei 8, 2008 kurikulum & pembelajaran

KPI Tetapkan 10 Tayangan TV Bermasalah

JAKARTA, JUMAT - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menetapkan 10 tayangan televisi (TV) yang dinilai bermasalah.

Berdasarkan evaluasi tim panelis yang diketuai oleh Arief Rahman, kesepuluh tayangan itu adalah Cinta Bunga (SCTV), Dangdut Mania Dadakan 2 (TPI), Extravaganza (Trans TV), Jelita (RCTI), Mask Rider Blade (ANTV), Mister Bego (ANTV), Namaku Mentari (RCTI), Rubiah (TPI), Si Entong (TPI), dan Super Seleb Show (Indosiar).

KPI meminta masyarakat untuk bijaksana dalam menyaksikan tayangan-tayangan tersebut karena kental sekali mengandung unsur-unsur kekerasan, baik fisik, sosial, maupun psikologis, dalam bentuk tindakan verbal nonverbal. Dalam tayangan-tayangan itu termuat pula pelecehan terhadap kelompok masyarakat maupun individu serta penganiayaan terhadap anak. Tayangan-tayangan tersebut juga tidak sesuai dengan norma-norma kesopanan dan kesusilaan.

Tim panelis melakukan evaluasi terhadap 198 tayangan (episode) dari 75 judul di sembilan stasiun TV, yaitu Indosiar, SCTV, TPI, RCTI, Global TV, ANTV, TVRI, Trans TV, dan Trans 7, dalam periode 1-13 April 2008. KPI juga berjanji akan terus memantau secara periodik dan memberi sanksi apabila stasiun-stasiun TV bersangkutan tidak melakukan perbaikan.


Sumber : Kompas online,  14:31 WIB  Jumat, 09 Mei 2008

Jenis - jenis Kesabaran

Oleh KH Abdullah Gymnastiar

BANYAK yang berpenampilan indah tetapi terhina, sebab dia tidak punya kesabaran, banyak orang yang akhirnya rugi padahal dia punya modal apa sebabnya karena dia tidak punya kesabaran. Banyak orang yang tergelincir ketika dilanda asmara dan tidak sabar, akibatnya rugi. Alangkah indahnya orang-orang yang diberi kesabaran.

Innalloha ma’ashoobiriin " Sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar (QS. 2; 153) " Sabar itu pahalanya bighoiri hisab, tiada terputus, maka sungguh aneh jikalau kita ingin dekat dengan Allah, ingin indah, ingin berpahala, ingin bahagia tapi tidak sabar, karena sabar itu kunci, kalau kita punya sabar maka kita akan punya pribadi yang indah, kalau kita punya sabar kita akan menjadi orang yang dekat dengan Allah, kalau kita punya sabar, kita akan mendapatkan ganjaran yang tiada terputus.

Setidaknya ada beberapa jenis kesabaran yang harus kita ketahui dalam hidup ini, yang pertama; Sabar ketika berkeinginan, kita ini kan hari-harinya dituntun oleh keinginan kalau tidak sabar keinginan inilah yang akan menjerumuskan kita. Jadi sabar yang pertama adalah meluruskan niat ketika kita punya keinginan.

Kita dikarunia Allah keinginan dan keinginan itulah yang menuntun sikap, kalau tidak sabar kita kehilangan niat, padahal niat adalah kunci diterimanya amal, ada orang yang cape pontang-panting, tapi tidak ada nilainya, karena apa? karena tidak sabar meluruskan niat,.. maka sebelum beramal wajib bagi kita untuk meluruskan niat, karena tanpa niat amal sia-sia.

Kadang orang tidak sibuk meluruskan niat tapi sibuk dengan perbuatannya, misalkan ingin membeli pakaian, kita harus bertanya dulu pada diri kita "perlukah saya membeli pakaian lagi, padahal dilemari masih banyak pakaian?" "Untuk Apa?" tapi kan ini warnanya kurang cocok ,….." kurang cocok kata siapa? "Jujur saja apakah warnanya kurang cocok ataukah ingin lagi? "Untuk apa memberatkan hisab, jikalau pakaian indah tapi kelakuan tidak indah tidak ada gunanya. Ketika sudah akan beli tanya lagi pada diri kita "benarkah kita beli sesuatu itu karena Allah atau karena ingin dipuji?” tanya.

Ingin menikah? Kita harus sabar untuk mengevaluasi dulu, kumpulkan informasi terlebih dahulu, studi kelayakan, pokoknya jika ingin sesuatu kumpulkan data terlebih dahulu. Sudah layakkah kita menikah? Jangan tergesa-gesa, renungkan dalam-dalam, kumpulkan informasi yang lengkap, bertanya kepada yang ahli, sebab kalau sudah ingin itu biasanya nafsu, kalau nafsu itu membutakan kebenaran. Kita harus sabar untuk bertanya, "benarkah niat saya ini? benarkah tujuan saya ini? mintalah petunjuk kepada Allah dengan shalat istikhoroh.

Lalu yang harus kita miliki kesabaran adalah Sabar Berproses , nah kita biasanya tidak sanggup untuk berproses, yang harus kita nikmati itu bukan hasil tetapi proses, karena yang jadi pahala itu proses, seperti membuat kue serabi misalnya; beras ditumbuk, lalu diayak, lalu marut kelapa, lalu diperas, lalu diolah, kemudian menyiapkan oncom untuk isinya, oncom digoreng, buat sambal oncom, belum lagi badan mengeluarkan keringat, tangan terparut, lalu harus menyiapkan pembakaran, kemudian setelah menjadi serabi? hanya sekejap saja makan dan menikmatinya begitu tidak sebanding dengan proses pembuatannya. Makanya rugi, kalau amal hanya ujungnya saja, karena bagi kita proseslah yang menjadi amal. Wallahu a’lam bish showab.

Sumber : Kolom Aa Gym, Harian Pontianak Post Harui Jumat, 09 Mei 2008

Senin, 05 Mei 2008

TEGAR

Oleh : Aang Gunawan

Pada suatu hari Rasulullah mengajak para sahabatnya berjalan-jalan ke luar Kota Makkah. Saat itu berbagai gangguan fisik terhadap Rasul dan sahabatnya mencapai titik klimaks. Penderitaan kian lengkap dengan wafatnya istri dan paman Rasulullah, dan diberlakukannya blokade ekonomi terhadap Bani Hasyim serta para sahabat Rasul.

Akibatnya mereka kekurangan pangan, kesehatan, dan terancam keselamatannya. Ketika Rasul dan para sahabat sampai ke suatu tempat dan beristirahat, berkata seorang sahabat, ''Ya Rasulullah, kita saat ini mengalami penderitaan yang luar biasa. Penyiksaan fisik sudah terbiasa kami alami, kekurangan makanan dan keselamatan melengkapi penderitaan kami. Bagaimana kalau untuk sementara kita hentikan dulu dakwah ini, kita bangun dulu perekonomian. Setelah kuat baru kita lanjutkan dakwah ini.''

Tidak lama berselang Allah SWT menurunkan wahyu sebagai jawaban terhadap keluhan sahabat tersebut. ''Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.'' (QS-Al Baqarah [2]: 195).

Dari kisah tersebut Allah memerintahkan kita meski dalam kondisi kekurangan harta, melonjaknya harga kebutuhan hidup, sulit mendapat pekerjaan, bahkan dalam kondisi keselamatan terancam, agar tetap tegar dan tidak berputus asa. Sebaliknya dengan harta dan kemampuan yang ada, kita dianjurkan tetap berbuat baik dengan menyedekahkan sebagian harta kita kepada orang lain. Apabila berkeluh kesah apalagi sampai berputus asa, berarti kita menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan.

Apabila kita tetap tegar dan bersabar atas berbagai krisis kehidupan, maka Allah memberikan balasan (pahala) dua kali lipat. Allah SWT berfirman, ''Kepada orang-orang itu diberikan pembalasan (pokok) dua kali lipat, disebabkan kesabaran mereka.'' (QS Al-Qashash [28]: 54).

Diriwayatkan oleh 'Atha' dari Ibnu Abbas, ketika Rasulullah SAW masuk ke tempat orang-orang Anshar, beliau bertanya, ''Apakah kamu semua orang beriman?" Mereka diam. Maka Umar menjawab, ''Ya, wahai Rasulullah!'' Nabi SAW bertanya, ''Apakah tandanya keimanan kamu itu?'' Mereka menjawab, ''Kami bersyukur atas kelapangan. Kami bersabar atas ujian. Dan kami rela dengan ketetapan Allah.'' Lalu Nabi SAW menjawab, ''Demi Tuhan pemilik Ka'bah! Benarlah kamu semua adalah orang beriman!''


Sumber: Kolom Hikmah (Harian Republika) tanggal 04 Maret 2008

Senin, 14 April 2008

Haruskah Anak Ranking 1 dan Hebat Matematika

Oleh : dr. Tjatur Prijambodo
Wakil direktur RS Muhammadiyah Gresik


“Jeng, si Rudi ranking berapa di kelasnya?” tanya bu Dwi pada bu Farida, ibunda si Rudi. Bu Farida hanya tersipu malu karena si Rudi hanya ranking sepuluh di kelasnya.
“Ayo Bu, si Heri ikutkan Kumon, biar matematikanya hebat,” ajak Bu Nurma ke Bu Lativa.
Obrolan tersebut jamak kita temui di sekitar kita. Seorang ibu akan menargetkan anaknya menjadi juara kelas dan membanggakan. Juga, seringkali kita jumpai ibu-ibu kebingungan anaknya tidak pandai matematika. Pertanyaannya, benarkah ranking 1 di kelas dan pandai matematika merupakan ukuran kehebatan/kecerdasan seorang anak?
Menurut Dr. Howard Gardner, cerdas adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan. Jadi, apa artinya ranking 1 (yang memang teknik penentuannya berdasarkan jumlah nilai rapor terbesar) di kelas atau hebat matematika, kalau dalam kesehariannya si anak kelihatan culun, takut dengan orang lain, dan hanya bisa menangis kalau nggak bisa melakukan sesuatu? Betapa banyak kita lihat, orang yang “gagal’ dalam hidupnya, padahal saat kecilnya dulu selalu ranking 1 dan matematikanya hebat. Sebaliknya, betapa banyak orang sukses yang waktu sekolahnya dulu selalu menempati ranking bawah.
Pandai matematika hanyalah sebagian kecil kecerdasan yang harus dimiliki seorang anak. Literatur-literatur terbaru menyebutkan, ada 9 kecerdasaan yang sebisa mungkin dimiliki anak, ialah: Logika-Matematika, Kinestetik, Natural, Linguistik, Spasial, Musik, Intrapersonal, Inrterpersonal, dan Spiritual.
Pandai matematika hanya se per sekian persen dari seluruh kecerdasan anak. Orang sesukses Michael Jordan belum tentu pinter matematika. Selama ini kita banyak terfokus pada otak kiri yang memang “ngurusi” masalah logika, tumemory. Sementara, otak kanan banyak kita “istirahatkan”, padahal berperan besar dalam proses imajinasi, emosi, kreativitas, musik, warna, dan long term memory.
Pertanyaannya berikutnya, mungkinkah kita bisa optimalkan semua jenis kecerdasan itu?” Jawabannya adalah mustahil. Oleh karena, ke-mustahilannya itulah, maka jangan pernah memaksa anak kita ranking 1 atau hebat matematika, sementara sebenarnya anak kita lemah di bidang itu dan punya kelebihan di bidang lain.

Sembilan Kecerdasan
1. Logika – Matematika, kecerdasan yang terkait dengan angka dan hitung-menghitung serta nalar. Sebagaimana yang dimiliki Albert Einstein dan Thomas Alva Edison.
2. Kinestetik, kecerdasan yang terkait dengan gerak tubuh dan aktivitas fisik, lebih mudah mengingat sesuatu dengan melakukan gerakan daripada melihat atau mendengar. Contoh: Bejo Sugiantoro, Muhammad Ali.
3. Natural, kecerdasan yang terkait dengan alam dan mempunyai perhatian lebih kepada lingkungan hidup. Contoh: Harun Yahya.
4. Linguistik, kecerdasan yang terkait dengan bahasa dan cerita, mudah mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, lisan maupun tulisan. Contoh: WS Rendra, Winston Churchill.
5. Spasial, kecerdasan yang terkait dengan gambaran suatu ruang, mudah menggambarkan ruangan dalam sudut pandang yang berbeda-beda dan menyukai seni rupa. Contoh: Affandi, Pablo Picasso.
6. Musik, kecerdasan yang terkait dengan nada, irama, dan bunyi-bunyian, mudah memainkan alat musik dan pandai bernyanyi. Contoh: Beethoven.
7. Intrapersonal, kecerdasan yang terkait dengan sensitifitas diri sendiri, senang menikmati kesendirian dan menghasilkan sesuatu yang lebih hebat bila sesuatu dikerjakan sendiri. Contoh: Sigmund Freud.
8. Interpersonal, kecerdasan yang terkait dengan sosialisasi, pandai berkomunikasi bahkan memanipulasi. Contoh: Ayatullah Khomeini.
9. Spiritual, kecerdasan yang terkait dengan akhlak dan perilaku keagamaan. Contoh: Amin Rais, Din Syamsuddin, Syafig al Mughni.

Di antara ke-9 kecerdasan yang ada, yang paling penting adalah kecerdasan spiritual. Tanpa kecerdasan spiritual, ke-8 kecerdasan yang lain akan menjadi bumerang bagi hidup dan kehidupan. Sebagai orangtua, kadang kita lupa mendidik anak untuk cerdas spiritual dan lebih memikirkan cerdas yang lain. Tugas sebagai orangtua adalah melihat kelebihan anak di “kecerdasan yang mana” untuk kemudian dioptimalkan sebaik mungkin. Fenomena paling up to date adalah Tukul Arwana dengan “kembali ke laptop”-nya. Siapa yang menyangsikan, saat ini kehidupan Tukul dibilang sukses? Apakah waktu sekolah Tukul dulu ranking 1? Apakah Tukul dulu pinter matematika? Banyak orang bilang kelebihan Tukul terletak pada “kekurangan”-nya. Banyak orang nggak paham, Tukul punya kecerdasan Linguistik dan Interpersonal yang baru terbaca tim kreatif empat mata, yang kemudian mampu mengemasnya menjadi sesuatu yang layak jual.


Sumber : http://suara-muhammadiyah.com/?p=306

Senin, 31 Maret 2008

April Mop Adalah Perayaan Pembantaian Ummat Islam

Medan-RoL-- Ummat Islam sangat tidak pantas merayakan "April Mop" atau "The April Fool Day" karena kebiasaan itu merupakan peringatan peristiwa pembantaian ummat Islam di Spanyol pada 1 April 1487 Masehi.

Ummat Islam banyak yang "latah" dan merayakan April Mop tanpa mengetahui dasar dan asal muasal peristiwa tersebut, kata Cendikiawan Muslim, Ir.H.Asmara Dharma dalam tulisannya yang diterima ANTARA di Medan, Minggu.

Ia menjelaskan, perayaan April Mop itu diawali peristiwa penyerangan besar-besaran oleh tentara Salib terhadap negara Spanyol yang ketika itu dibawah kekuasaan kekhalifahan Islam pada Maret 1487 Masehi.

Kota-kota Islam di Spanyol seperti Zaragoza dan Leon di wilayah Utara, Vigo dan Forto di wilayah Timur, Valencia di wilayah Barat, Lisabon dan Cordoba di Selatan serta Madrid di pusat kota dan Granada sebagai kota pelabuhan berhasil dikuasai tentara Salib.

Ummat Islam yang tersisa dari peperangan itu dijanjikan kebebasan jika meninggalkan Spanyol dengan kapal yang disiapkan di pelabuhan Granada. Tentara Salib itu berjanji keselamatan dan memperbolehkan ummat Islam menaiki kapal jika mereka meninggalkan Spanyol dan persenjataan mereka.

Namun ketika ribuan ummat Islam sudah berkumpul di pelabuhan, kapal yang tadinya sandar di pelabuhan langsung dibakar dan kaum muslim dibantai dengan kejam sehingga air laut menjadi merah karena darah.

Peristiwa pembantaian dan pengingkaran janji tersebut terjadi pada 1 April 1487 Masehi dan dikenang sebagai "The April Fool Day".

Selanjutnya, kata Dharma, peristiwa "The April Fool Day" itu dipopulerkan menjadi April Mop dengan "ritual" boleh mengerjai, menipu dan menjahili orang lain pada tanggal tersebut tetapi bernuansa gembira.

"Ritual tersebut disyaratkan dengan tidak bolehnya orang yang ditipu dan dijahili itu marah dan membalas," katanya. Salah seorang remaja muslim, Julia Putri mengaku tidak mengetahui sejarah April Mop tersebut meski sering melakukannya ketika masih di bangku sekolah.

Namun Julia mengaku terkejut jika perayaan April Mop tersebut terkait peristiwa pembantaian ummat Islam di Spanyol.

Sementara itu Rita Sahara, remaja Medan lainnya juga menyatakan tidak mengetahui sejarah awal perayaan April Mop.

Dia menyatakan hanya mengetahui April Mop berkaitan dengan praktik menjahili, menyampaikan informasi bohong dan mengolok-olok orang lain dengan membuat kejutan. Setelah mengetahui sejarah April Mop itu, ia mengimbau ummat Islam khususnya kaum remaja tidak perlu merayakan April Mop karena sama artinya merayakan pembantaian ummat Islam. antara/abi.




Sumber : http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=328481&kat_id=23

Minggu, 02 Maret 2008

Menjauhi Tipuan Syaitan

 
Oleh KH Abdullah Gymnastiar


Jakarta,- SAUDARAKU yang budiman, satu hal yang sering kita lupakan dalam hidup ini, yaitu menyadari akan keberadaan syaitan. Syaitan, walaupun wujudnya tidak terlihat oleh mata, namun hasilnya sangat nyata. Terbukti dengan banyak manusia yang terjerat akan tipuannya, gelap mata akibat kekhilafannya.

Salah satu tipuan syaitan yang kerap mengelabui yaitu melalui hawa nafsu. Karena itulah yang menjadi kendaraan syaitan dalam menjalankan tugasnya mencelakakan manusia.

Beberapa tabiat hawa nafsu jahat yang perlu kita waspadai di antaranya nafsu senang pada penghargaan diri. Selain itu, syaitan sangat senang menyuruh kita agar mengumbar nikmat secara berlebihan. Dalam Alquran digambarkan secara jelas bahwa Allah SWT menciptakan syaitan sebagai musuh bagi orang-orang beriman. Dengan keperkasaannya ia mampu menguasai diri kita. Kalau kita tidak peduli pada syaitan, dia sangat peduli pada kita.

Kita tidak bisa melihat wujudnya, tapi dia sangat memperhatikan kita. Dan, syaitan benar-benar terintegrasi kekuatannya untuk tolong-menolong. Jika kita kurang waspada bersiap-siaplah diri kita dikuasainya. Kendaraan syaitan adalah nafsu, syahwat, dan keinginan. Orang yang tidak mampu mengendalikan keinginannya akan habis dia gunakan untuk memperturutkan nafsunya. Dan orang yang dikuasai nafsu syaitan selalu merasa diri paling benar. Ia merasa apa yang dilakukan merupakan kebenaran yang tidak mungkin salah.

Sedang apa yang dilakukan orang lain adalah kesalahan yang tidak mungkin benar. Selain itu, ia senantiasa menyepelekan orang lain dan segala yang dilakukan diniatkan karena ingin dipuja dan dipuji orang lain.

Amat rugilah orang yang selalu mengandalkan nafsunya untuk memenuhi keinginan. ”Padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain tipuan belaka.” (QS An-Nisa [4]:120).

Dua strategi penting yang membuat kita lebih aman dari tipuan syaitan. Pertama, banyak berlindung kepada Allah. Karena Dia-lah yang menguasai makhluk-makhluk (termasuk syaitan). Kalau bukan berlindung kepada Allah lalu kepada siapa lagi. Hanya Allah-lah sebaik-baik pelindung. ”Dan apabila hamba-hambaku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku. Agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah [2]:186).

Kedua, kuasai nafsu yaitu dengan mengendalikan diri. Setiap saat, setiap waktu, syaitan selalu mencari peluang. Kalau kita kurang pintar mengendalikan diri bersiap-siaplah menjadi pelayan syaitan. Tabiat hawa nafsu salah satunya sangat enggan pada ketaatan. Beribadah malas, begitu juga dalam beramal, kalau tidak menguntungkan dirinya, lebih baik tidak dilakukannya.

Kalau orang makin disukai Allah yang dibukakan ke orang tersebut adalah kekurangan, sedangkan ke orang lain yang dibukakan kelebihannya. Sebaliknya, orang yang tidak disukai Allah, dia membukakan kepada dirinya kelebihan kepada Allah, memperlihatkan kepada orang lain kejelekannya. Dia melihat dirinya paling baik. Naudzubillah . Saudaraku, sesungguhnya syaitan tidak akan pernah pensiun selama manusia ada dalam ketaatan kepada Allah. Karena itu, marilah kita tingkatkan keimanan kita. Wallahu a’lam bish showab.**


Sumber: www.pontianakpost.com  (kolom Aa Gym, 25 Januari 2008)

Rabu, 23 Januari 2008

AKHLAK RASULULLAH

Di sebuah sudut Kota Madinah, selalu mangkal seorang pengemis Yahudi buta. Setiap orang yang mendekati, ia selalu berkata, ''Wahai Saudaraku, jangan engkau dekati Muhammad yang mengaku sebagai Rasul itu. Dia gila, pembohong, dan tukang sihir. Jika kamu mendekatinya, dia akan memengaruhimu.''

Walau sebegitu busuk hati dan perbuatan pengemis itu, setiap pagi Rasulullah selalu membawakan makanan untuknya. Tanpa berkata, beliau menyuapi pengemis itu. Rasulullah melakukan hal ini hingga wafat.

Ketika Abu Bakar berkunjung ke rumah Aisyah, beliau bertanya, ''Wahai anakku, adakah sunah Rasulullah yang belum aku kerjakan?'' Aisyah menjawab, ''Wahai ayah, engkau ahli sunah, hampir tidak ada sunah yang belum Ayah lakukan, kecuali setiap pagi Rasulullah pergi ke ujung pasar dengan membawa makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana.''

Keesokan harinya Abu Bakar pergi ke sudut pasar dengan membawa makanan. Abu Bakar memberikan makanan kepada sang pengemis. Ketika mulai menyuapi, pengemis marah sambil berteriak, ''Siapa kamu?'' Abu Bakar menjawab, ''Aku orang yang biasa.'' Pengemis membantah, ''Engkau bukan orang yang biasa datang. Apabila orang itu datang, tanganku tidak akan susah memegang dan mulutku tidak akan susah mengunyah. Orang itu selalu menghaluskan makanan terlebih dahulu sebelum menyuapkannya kepadaku.''

Abu Bakar tidak dapat menahan air matanya. Ia menangis sambil berkata jujur, ''Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku sahabatnya. Orang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.'' Setelah pengemis Yahudi itu mendengar cerita Abu Bakar, ia menangis dan berkata, ''Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, tapi ia tidak pernah memarahiku sedikit pun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Ia begitu mulia.'' Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya masuk Islam dan bersyahadat di hadapan Abu Bakar.

Itulah salah satu bentuk keagungan seorang Muhammad. Kebaikannya dan ketinggian akhlaknya tidak terbendung oleh kebencian dan cercaan. Bahkan, beda keyakinan yang notabene merupakan hal yang paling esensial, menjadi lebur di hadapan keluhuran hatinya. Ini sebuah cermin dan teladan yang sangat dibutuhkan ketika saling pengertian, toleransi, dan objektivitas menjadi barang mahal.

(Zulheldi MAg )
dari : Kolom Hikmah Republika Rabu, 17 Oktober 2007

Senin, 07 Januari 2008

Rahasia Umur Panjang

Meski bertubuh pendek, orang Jepang berumur panjang. Sebut saja nama Okinawa. Provinsi di utara Tokyo ini adalah surga manusia lanjut usia. Ketika Prof Hardiansyah melakukan riset di Okinawa 20 tahun silam, ia menemukan banyak penduduk berusia 140 tahun di situ. Bahkan, kata dekan Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) itu,''Ada yang sampai 160 tahun,''.

Jepang adalah sebuah fenomena. Satu dasawarsa sebelum Perang Dunia II, usia harapan hidup (UHH) orang Jepang hanya 45 tahun. Tapi kini, rata-rata penduduk Jepang meninggal pada usia 82,4 tahun -- UHH tertinggi di dunia. Jepang melampaui semua negara Barat soal UHH, termasuk Amerika Serikat (AS), negeri yang menaklukkannya pada Perang Dunia II. Bagaimana dengan Indonesia? Penduduk negeri ini hidup lebih sebentar ketimbang warga Jepang, yakni hingga usia rata-rata 70,9 tahun. (lihat table).

Sukses orang-orang Jepang adalah sebuah pesan yang tegas : siapa pun berpeluang meningkatkan usia harapan hidupnya. Pakar andrologi dari Universitas Udayana Denpasar, Prof Dr dr Alex Pangkahila SpAnd MSc, menilai umur panjang bisa 'direkayasa'. Caranya, kata dia, dengan melakukan pola hidup sehat. Pola hidup, sambung Alex,''Berpengaruh sekitar 64 persen terhadap umur manusia. Selebihnya adalah faktor penyakit, lingkungan dan genetika,''.

Tak syak lagi, pola hidup yang utama adalah pola makan. Dalam risetnya dua dasawarsa silam, Prof Hardinsyah menemukan pola makan unik yang dilakoni penduduk Okinawa. ''Warga di sana tak mengenal kata gorengan,'' kata ketua umum Perhimpunan Peminat Gizi dan Pangan Indonesia. Semua pangan dimasak dengan cara direbus, dikukus, atau dibakar. Inilah rahasia umur panjang penduduk Okinawa : pola makan bebas lemak .

Seperti mengamalkan slogan back to nature, penduduk Okinawa amat doyan sayuran dan umbi-umbian. Mereka memetik sendiri sayuran di depan rumahnya sebagai makanan sehari-hari. Sayuran-sayuran ini tanpa pestisida. Adapun sumber pangan utama adalah ubi merah, tanaman lokal yang tumbuh subur di daerah tersebut. Sebagai menu tambahan, penduduk Okinawa menyantap ikan laut, rumput laut, dan buah paria. Tak ada junk food. Tak ada produk makanan olahan dalam kaleng.

Toh, ini adalah resep universal. Apih Tajidin, yang terpisah jarak ribuan kilometer dari Okinawa, sudah melakoni pola makan serba alami dan tanpa lemak selama delapan dasawarsa. Warga desa Pakenjeng, Kecamatan Bungbulang, Kabupaten Garut, itu menuai hasilnya kini : usianya terhitung panjang, 88 tahun, dan badannya pun masih tampak perkasa.

Apih perkasa dalam arti sesungguhnya. Saban hari usai beduk subuh, kakek 11 anak itu sudah bergegas berangkat ke sawah untuk mencangkul hingga matahari tegak di atas kepala. Yang menyamakan Apih dengan penduduk Okinawa adalah ia pantang melahap makanan berlemak. Apih mengaku cuma makan daging-dagingan saat hari-hari besar saja. Apih juga fanatik terhadap terhadap sayur-sayuran alami. Ia memetik hasil bumi seperti ketimun, tomat, daun katuk, atau terong sebelum menyantap makan siang kiriman istrinya. Sayur-sayuran ini, kata dia,''Bisa membikin awet muda,'' ia tertawa.

Soal pola makan, tak diragukan lagi jika penduduk Okinawa amat pintar merawat lambung. Empat belas abad lalu Nabi Muhammad SAW mengajarkan 'berhentilah makan sebelum kenyang', dan warga Okinawa punya filosofi yang kurang lebih serupa : makan hanya 8/10 kenyang. Hara hachi bu! Ini satu lagi resep rahasia umur panjang para lansia Okinawa.

Lambung manusia, menurut Hardinsyah, terdiri atas 1/3 ruang udara, 1/3 ruang air, dan 1/3 ruang makanan. Kalau jumlah makanan melabrak ruang-ruang lainnya,''Itu sama saja mengajak lambung bekerja lebih keras,'' tuturnya.

Ketelatenan R H Abdulah (84 tahun) merawat lambung membuahkan bonus umur baginya. Sejak kecil, warga Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi, ini mengaku amat jarang bersantap hingga kekenyangan. Malah, sejak bangku setingkat SMP pada 1930-an, Abdulah hingga kini tak pernah alpa puasa Senin dan Kamis. Hasilnya? Tubuh dia selalu bugar. ''Saya enggak pernah sakit keras,'' tutur pria yang kerap naik turun bus antarkota sendiri.

Toh, pola makan yang sehat bukanlah segala-galanya. Rahasia umur panjang ternyata tak hanya terletak di lambung, tetapi juga di dada. ''Perlu gaya hidup dan sikap mental positif agar kita panjang usia,'' tutur konsultan geriatri RS Dr Sardjito/FK UGM dr Probosuseno, SpPD-Kger. Nah, salah satu sikap positif yang wajib dimiliki adalah ikhlas. Berserah diri kepada Tuhan, bersyukur jika mendapatkan yang diinginkan, bersabar jika tak memperoleh yang diimpikan. Inilah pil paling mujarab untuk melawan stres.

Sikap ikhlas mengejewantah pada diri Adung Arba (91 tahun) dengan amat sederhana. Warga Sindangjaya, Mandalajati, Bandung, ini sudah cukup terlatih untuk memandang enteng peristiwa getir. Semua masalah dibuatnya ringan. Bahkan soal kematian pun bisa diobrolkan sembari ngopi.

Ketika Republika menemuinya, Rabu (3/1), Adung memberi oleh-oleh sepotong cerita. ''Saya pernah mendengar kisah bahwa di akhir zaman ini akan turun dajjal. Padahal, yang benar turun adalah bujal (pusar,red), karena sekarang banyak wanita pakai rok mini,'' ungkap kakek 27 cucu dan sembilan buyut itu sembari terkekeh. Itulah resep hidup Arba yang membuatnya tetap bugar di usia senja.

sumber: http://www.republika.co.id/

Sabtu, 05 Januari 2008

**BERGERAK**

Oleh: Rhenald Kasali


"Sebagian besar orang yang melihat belum tentu bergerak, dan yang bergerak belum tentu menyelesaikan (perubahan)."

Kalimat ini mungkin sudah pernah Anda baca dalam buku baru Saya,"ChaNge".
Minggu lalu, dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Indosat, iseng-iseng Saya mengeluarkan dua lembaran Rp 50.000. Di tengah-tengah ratusan orang yang tengah menyimak isi buku, saya tawarkan uang itu. "Silahkan, siapa yang mau boleh ambil," ujar Saya.
Saya menunduk ke bawah menghindari tatapan ke muka audiens sambil menjulurkan uang Rp 100.000.

Seperti yang Saya duga, hampir semua audiens hanya diam terkesima. Saya ulangi kalimat Saya beberapa kali dengan mimik muka yang lebih serius. Beberapa orang tampak tersenyum, ada yang mulai menarik badannya dari sandaran kursi, yang lain lagi menendang kaki temannya. Seorang ibu menyuruh temannya maju, tetapi mereka semua tak bergerak. Belakangan, dua orang pria maju ke depan sambil celingak-celinguk.
Orang yang maju dari sisi sebelah kanan mulanya bergerak cepat, tapi ia segera menghentikan langkahnya dan termangu, begitu melihat seseorang dari sisi sebelah kiri lebih cepat ke depan. Ia lalu kembali ke kursinya.
Sekarang hanya tinggal satu orang saja yang sudah berada di depan Saya. Gerakannya begitu cepat, tapi tangannya berhenti manakala uang itu disentuhnya. Saya dapat merasakan tarikan uang yang dilakukan dengan keragu-raguan. Semua audiens tertegun.

Saya ulangi pesan Saya, "Silahkan ambil, silahkan ambil."
Ia menatap wajah Saya, dan Saya pun menatapnya dengan wajah lucu.
Audiens tertawa melihat keberanian anak muda itu. Saya ulangi lagi kalimat Saya, dan Ia pun merampas uang kertas itu dari tangan Saya dan kembali ke kursinya.
Semuaaudiens tertawa terbahak-bahak. Seseorang lalu berteriak, "Kembalikan,kembalikan!"
Saya mengatakan, "Tidak usah. Uang itu sudah menjadi miliknya."

Setidaknya, dengan permainan itu seseorang telah menjadi lebih kaya Rp.100.000. Saya tanya kepada mereka, mengapa hampir semua diam, tak bergerak.Bukankah uang yang Saya sodorkan tadi adalah sebuah kesempatan?

Mereka pun menjawab dengan berbagai alasan:
"Saya pikir Bapak cuma main-main ............"
"Nanti uangnya toh diambil lagi."
"Malu-maluin aja."
"Saya tidak mau kelihatan nafsu. Kita harus tetap terlihat cool!"
"Saya enggak yakin bapak benar-benar akan memberikan uang itu ....."
"Pasti ada orang lain yang lebih membutuhkannya...."
"Saya harus tunggu dulu instruksi yang lebih jelas....."
"Saya takut salah, nanti cuma jadi tertawaan doang........."
"Saya, kan duduk jauh di belakang..." dan seterusnya.

Saya jelaskan bahwa jawaban mereka sama persis dengan tindakan mereka sehari-hari. Hampir setiap saat kita dilewati oleh rangkaian opportunity (kesempatan),tetapi kesempatan itu dibiarkan pergi begitu saja.
Yang gila itu adalah yang selalu mengharapkan perubahan, sementara melakukan hal yang sama dari hari ke hari.....,"

Pembaca, di dalam bisnis, gagasan, pendidikan, pemerintahan dan sebagainya, Saya kira kita semua menghadapi masalah yang sama.
Mungkin benar kata teman Saya tadi, kita semua mengharapkan perubahan, tapi kita tak tahu harus mulai dari mana.
Akibatnya kita semua hanya melakukan hal yang sama dari hari ke hari, jadi omong kosong perubahan akan datang. Perubahan hanya bisa datang kalau orang-orang mau bergerak bukan hanya dengan omongan saja.

Seperti kata Jack Canfield,yang menulis buku Chicken Soup for the Soul, yang membedakan antara winners dengan losers adalah "Winners take action.they simply get up and do what has to be done.".

Selamat bergerak!