Rabu, 23 Januari 2008

AKHLAK RASULULLAH

Di sebuah sudut Kota Madinah, selalu mangkal seorang pengemis Yahudi buta. Setiap orang yang mendekati, ia selalu berkata, ''Wahai Saudaraku, jangan engkau dekati Muhammad yang mengaku sebagai Rasul itu. Dia gila, pembohong, dan tukang sihir. Jika kamu mendekatinya, dia akan memengaruhimu.''

Walau sebegitu busuk hati dan perbuatan pengemis itu, setiap pagi Rasulullah selalu membawakan makanan untuknya. Tanpa berkata, beliau menyuapi pengemis itu. Rasulullah melakukan hal ini hingga wafat.

Ketika Abu Bakar berkunjung ke rumah Aisyah, beliau bertanya, ''Wahai anakku, adakah sunah Rasulullah yang belum aku kerjakan?'' Aisyah menjawab, ''Wahai ayah, engkau ahli sunah, hampir tidak ada sunah yang belum Ayah lakukan, kecuali setiap pagi Rasulullah pergi ke ujung pasar dengan membawa makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana.''

Keesokan harinya Abu Bakar pergi ke sudut pasar dengan membawa makanan. Abu Bakar memberikan makanan kepada sang pengemis. Ketika mulai menyuapi, pengemis marah sambil berteriak, ''Siapa kamu?'' Abu Bakar menjawab, ''Aku orang yang biasa.'' Pengemis membantah, ''Engkau bukan orang yang biasa datang. Apabila orang itu datang, tanganku tidak akan susah memegang dan mulutku tidak akan susah mengunyah. Orang itu selalu menghaluskan makanan terlebih dahulu sebelum menyuapkannya kepadaku.''

Abu Bakar tidak dapat menahan air matanya. Ia menangis sambil berkata jujur, ''Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku sahabatnya. Orang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.'' Setelah pengemis Yahudi itu mendengar cerita Abu Bakar, ia menangis dan berkata, ''Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, tapi ia tidak pernah memarahiku sedikit pun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Ia begitu mulia.'' Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya masuk Islam dan bersyahadat di hadapan Abu Bakar.

Itulah salah satu bentuk keagungan seorang Muhammad. Kebaikannya dan ketinggian akhlaknya tidak terbendung oleh kebencian dan cercaan. Bahkan, beda keyakinan yang notabene merupakan hal yang paling esensial, menjadi lebur di hadapan keluhuran hatinya. Ini sebuah cermin dan teladan yang sangat dibutuhkan ketika saling pengertian, toleransi, dan objektivitas menjadi barang mahal.

(Zulheldi MAg )
dari : Kolom Hikmah Republika Rabu, 17 Oktober 2007

Senin, 07 Januari 2008

Rahasia Umur Panjang

Meski bertubuh pendek, orang Jepang berumur panjang. Sebut saja nama Okinawa. Provinsi di utara Tokyo ini adalah surga manusia lanjut usia. Ketika Prof Hardiansyah melakukan riset di Okinawa 20 tahun silam, ia menemukan banyak penduduk berusia 140 tahun di situ. Bahkan, kata dekan Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) itu,''Ada yang sampai 160 tahun,''.

Jepang adalah sebuah fenomena. Satu dasawarsa sebelum Perang Dunia II, usia harapan hidup (UHH) orang Jepang hanya 45 tahun. Tapi kini, rata-rata penduduk Jepang meninggal pada usia 82,4 tahun -- UHH tertinggi di dunia. Jepang melampaui semua negara Barat soal UHH, termasuk Amerika Serikat (AS), negeri yang menaklukkannya pada Perang Dunia II. Bagaimana dengan Indonesia? Penduduk negeri ini hidup lebih sebentar ketimbang warga Jepang, yakni hingga usia rata-rata 70,9 tahun. (lihat table).

Sukses orang-orang Jepang adalah sebuah pesan yang tegas : siapa pun berpeluang meningkatkan usia harapan hidupnya. Pakar andrologi dari Universitas Udayana Denpasar, Prof Dr dr Alex Pangkahila SpAnd MSc, menilai umur panjang bisa 'direkayasa'. Caranya, kata dia, dengan melakukan pola hidup sehat. Pola hidup, sambung Alex,''Berpengaruh sekitar 64 persen terhadap umur manusia. Selebihnya adalah faktor penyakit, lingkungan dan genetika,''.

Tak syak lagi, pola hidup yang utama adalah pola makan. Dalam risetnya dua dasawarsa silam, Prof Hardinsyah menemukan pola makan unik yang dilakoni penduduk Okinawa. ''Warga di sana tak mengenal kata gorengan,'' kata ketua umum Perhimpunan Peminat Gizi dan Pangan Indonesia. Semua pangan dimasak dengan cara direbus, dikukus, atau dibakar. Inilah rahasia umur panjang penduduk Okinawa : pola makan bebas lemak .

Seperti mengamalkan slogan back to nature, penduduk Okinawa amat doyan sayuran dan umbi-umbian. Mereka memetik sendiri sayuran di depan rumahnya sebagai makanan sehari-hari. Sayuran-sayuran ini tanpa pestisida. Adapun sumber pangan utama adalah ubi merah, tanaman lokal yang tumbuh subur di daerah tersebut. Sebagai menu tambahan, penduduk Okinawa menyantap ikan laut, rumput laut, dan buah paria. Tak ada junk food. Tak ada produk makanan olahan dalam kaleng.

Toh, ini adalah resep universal. Apih Tajidin, yang terpisah jarak ribuan kilometer dari Okinawa, sudah melakoni pola makan serba alami dan tanpa lemak selama delapan dasawarsa. Warga desa Pakenjeng, Kecamatan Bungbulang, Kabupaten Garut, itu menuai hasilnya kini : usianya terhitung panjang, 88 tahun, dan badannya pun masih tampak perkasa.

Apih perkasa dalam arti sesungguhnya. Saban hari usai beduk subuh, kakek 11 anak itu sudah bergegas berangkat ke sawah untuk mencangkul hingga matahari tegak di atas kepala. Yang menyamakan Apih dengan penduduk Okinawa adalah ia pantang melahap makanan berlemak. Apih mengaku cuma makan daging-dagingan saat hari-hari besar saja. Apih juga fanatik terhadap terhadap sayur-sayuran alami. Ia memetik hasil bumi seperti ketimun, tomat, daun katuk, atau terong sebelum menyantap makan siang kiriman istrinya. Sayur-sayuran ini, kata dia,''Bisa membikin awet muda,'' ia tertawa.

Soal pola makan, tak diragukan lagi jika penduduk Okinawa amat pintar merawat lambung. Empat belas abad lalu Nabi Muhammad SAW mengajarkan 'berhentilah makan sebelum kenyang', dan warga Okinawa punya filosofi yang kurang lebih serupa : makan hanya 8/10 kenyang. Hara hachi bu! Ini satu lagi resep rahasia umur panjang para lansia Okinawa.

Lambung manusia, menurut Hardinsyah, terdiri atas 1/3 ruang udara, 1/3 ruang air, dan 1/3 ruang makanan. Kalau jumlah makanan melabrak ruang-ruang lainnya,''Itu sama saja mengajak lambung bekerja lebih keras,'' tuturnya.

Ketelatenan R H Abdulah (84 tahun) merawat lambung membuahkan bonus umur baginya. Sejak kecil, warga Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi, ini mengaku amat jarang bersantap hingga kekenyangan. Malah, sejak bangku setingkat SMP pada 1930-an, Abdulah hingga kini tak pernah alpa puasa Senin dan Kamis. Hasilnya? Tubuh dia selalu bugar. ''Saya enggak pernah sakit keras,'' tutur pria yang kerap naik turun bus antarkota sendiri.

Toh, pola makan yang sehat bukanlah segala-galanya. Rahasia umur panjang ternyata tak hanya terletak di lambung, tetapi juga di dada. ''Perlu gaya hidup dan sikap mental positif agar kita panjang usia,'' tutur konsultan geriatri RS Dr Sardjito/FK UGM dr Probosuseno, SpPD-Kger. Nah, salah satu sikap positif yang wajib dimiliki adalah ikhlas. Berserah diri kepada Tuhan, bersyukur jika mendapatkan yang diinginkan, bersabar jika tak memperoleh yang diimpikan. Inilah pil paling mujarab untuk melawan stres.

Sikap ikhlas mengejewantah pada diri Adung Arba (91 tahun) dengan amat sederhana. Warga Sindangjaya, Mandalajati, Bandung, ini sudah cukup terlatih untuk memandang enteng peristiwa getir. Semua masalah dibuatnya ringan. Bahkan soal kematian pun bisa diobrolkan sembari ngopi.

Ketika Republika menemuinya, Rabu (3/1), Adung memberi oleh-oleh sepotong cerita. ''Saya pernah mendengar kisah bahwa di akhir zaman ini akan turun dajjal. Padahal, yang benar turun adalah bujal (pusar,red), karena sekarang banyak wanita pakai rok mini,'' ungkap kakek 27 cucu dan sembilan buyut itu sembari terkekeh. Itulah resep hidup Arba yang membuatnya tetap bugar di usia senja.

sumber: http://www.republika.co.id/

Sabtu, 05 Januari 2008

**BERGERAK**

Oleh: Rhenald Kasali


"Sebagian besar orang yang melihat belum tentu bergerak, dan yang bergerak belum tentu menyelesaikan (perubahan)."

Kalimat ini mungkin sudah pernah Anda baca dalam buku baru Saya,"ChaNge".
Minggu lalu, dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Indosat, iseng-iseng Saya mengeluarkan dua lembaran Rp 50.000. Di tengah-tengah ratusan orang yang tengah menyimak isi buku, saya tawarkan uang itu. "Silahkan, siapa yang mau boleh ambil," ujar Saya.
Saya menunduk ke bawah menghindari tatapan ke muka audiens sambil menjulurkan uang Rp 100.000.

Seperti yang Saya duga, hampir semua audiens hanya diam terkesima. Saya ulangi kalimat Saya beberapa kali dengan mimik muka yang lebih serius. Beberapa orang tampak tersenyum, ada yang mulai menarik badannya dari sandaran kursi, yang lain lagi menendang kaki temannya. Seorang ibu menyuruh temannya maju, tetapi mereka semua tak bergerak. Belakangan, dua orang pria maju ke depan sambil celingak-celinguk.
Orang yang maju dari sisi sebelah kanan mulanya bergerak cepat, tapi ia segera menghentikan langkahnya dan termangu, begitu melihat seseorang dari sisi sebelah kiri lebih cepat ke depan. Ia lalu kembali ke kursinya.
Sekarang hanya tinggal satu orang saja yang sudah berada di depan Saya. Gerakannya begitu cepat, tapi tangannya berhenti manakala uang itu disentuhnya. Saya dapat merasakan tarikan uang yang dilakukan dengan keragu-raguan. Semua audiens tertegun.

Saya ulangi pesan Saya, "Silahkan ambil, silahkan ambil."
Ia menatap wajah Saya, dan Saya pun menatapnya dengan wajah lucu.
Audiens tertawa melihat keberanian anak muda itu. Saya ulangi lagi kalimat Saya, dan Ia pun merampas uang kertas itu dari tangan Saya dan kembali ke kursinya.
Semuaaudiens tertawa terbahak-bahak. Seseorang lalu berteriak, "Kembalikan,kembalikan!"
Saya mengatakan, "Tidak usah. Uang itu sudah menjadi miliknya."

Setidaknya, dengan permainan itu seseorang telah menjadi lebih kaya Rp.100.000. Saya tanya kepada mereka, mengapa hampir semua diam, tak bergerak.Bukankah uang yang Saya sodorkan tadi adalah sebuah kesempatan?

Mereka pun menjawab dengan berbagai alasan:
"Saya pikir Bapak cuma main-main ............"
"Nanti uangnya toh diambil lagi."
"Malu-maluin aja."
"Saya tidak mau kelihatan nafsu. Kita harus tetap terlihat cool!"
"Saya enggak yakin bapak benar-benar akan memberikan uang itu ....."
"Pasti ada orang lain yang lebih membutuhkannya...."
"Saya harus tunggu dulu instruksi yang lebih jelas....."
"Saya takut salah, nanti cuma jadi tertawaan doang........."
"Saya, kan duduk jauh di belakang..." dan seterusnya.

Saya jelaskan bahwa jawaban mereka sama persis dengan tindakan mereka sehari-hari. Hampir setiap saat kita dilewati oleh rangkaian opportunity (kesempatan),tetapi kesempatan itu dibiarkan pergi begitu saja.
Yang gila itu adalah yang selalu mengharapkan perubahan, sementara melakukan hal yang sama dari hari ke hari.....,"

Pembaca, di dalam bisnis, gagasan, pendidikan, pemerintahan dan sebagainya, Saya kira kita semua menghadapi masalah yang sama.
Mungkin benar kata teman Saya tadi, kita semua mengharapkan perubahan, tapi kita tak tahu harus mulai dari mana.
Akibatnya kita semua hanya melakukan hal yang sama dari hari ke hari, jadi omong kosong perubahan akan datang. Perubahan hanya bisa datang kalau orang-orang mau bergerak bukan hanya dengan omongan saja.

Seperti kata Jack Canfield,yang menulis buku Chicken Soup for the Soul, yang membedakan antara winners dengan losers adalah "Winners take action.they simply get up and do what has to be done.".

Selamat bergerak!