Jumat, 09 Mei 2008

Empat Pilar Belajar

Untuk menghadapi dan menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan dunia yang sangat cepat, Unesco (Nana Syaodih Sukmadinata, 2005) merumuskan empat pilar belajar, yaitu: belajar mengetahui (learning to know), belajar berkarya (learning to do), belajar hidup bersama (learning to live together), dan belajar berkembang secara utuh (learning to be).

1. Belajar mengetahui (learning to know)
Belajar mengetahui berkenaan dengan perolehan, penguasaan dan pemanfaatan informasi. Dewasa ini terdapat ledakan informasi dan pengetahuan. Hal itu bukan saja disebabkan karena adanya perkembangan yang sangat cepat dalam bidang ilmu dan teknologi, tetapi juga karena perkembangan teknologi yang sangat cepat, terutama dalam bidang elektronika, memungkinkan sejumlah besar informasi dan pengetahuan tersimpan, bisa diperoleh dan disebarkan secara cepat dan hampir menjangkau seluruh planet bumi. Belajar mengetahui merupakan kegiatan untuk memperoleh, memperdalam dan memanfaatkan pengetahuan. Pengetahuan diperoleh dengan berbagai upaya perolehan pengetahuan, melalui membaca, mengakses internet, bertanya, mengikuti kuliah, dll. Pengetahuan dikuasai melalui hafalan, tanya-jawab, diskusi, latihan pemecahan masalah, penerapan, dll. Pengetahuan dimanfaatkan untuk mencapai berbagai tujuan: memperluas wawasan, meningkatakan kemampuan, memecahkan masalah, belajar lebih lanjut, dll.
Jacques Delors (1996), sebagai ketua komisi penyusun Learning the Treasure Within, menegaskan adanya dua manfaat pengetahuan, yaitu pengetahuan sebagai alat (mean) dan pengetahuan sebagai hasil (end). Sebagai alat, pengetahuan digunakan untuk pencapaian berbagai tujuan, seperti: memahami lingkungan, hidup layak sesuai kondisi lingkungan, pengembangan keterampilan bekerja, berkomunikasi. Sebagai hasil, pengetahuan mereka dasar bagi kepuasaan memahami, mengetahui dan menemukan.
Pengetahuan terus berkembang, setiap saat ditemukan pengetahuan baru. Oleh karena itu belajar mengetahui harus terus dilakukan, bahkan ditingkatkan menjadi knowing much (berusaha tahu banyak).

2. Belajar berkarya (learning to do)
Agar mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dalam masyarakat yang berkembang sangat cepat, maka individu perlu belajar berkarya. Belajar berkarya berhubungan erat dengan belajar mengetahui, sebab pengetahuan mendasari perbuatan. Dalam konsep komisi Unesco, belajar berkarya ini mempunyai makna khusus, yaitu dalam kaitan dengan vokasional. Belajar berkarya adalah balajar atau berlatih menguasai keterampilan dan kompetensi kerja. Sejalan dengan tuntutan perkembangan industri dan perusahaan, maka keterampilan dan kompetisi kerja ini, juga berkembang semakin tinggi, tidak hanya pada tingkat keterampilan, kompetensi teknis atau operasional, tetapi sampai dengan kompetensi profesional. Karena tuntutan pekerjaan didunia industri dan perusahaan terus meningkat, maka individu yang akan memasuki dan/atau telah masuk di dunia industri dan perusahaan perlu terus bekarya. Mereka harus mampu doing much (berusaha berkarya banyak).

3. Belajar hidup bersama (learning to live together)
Dalam kehidupan global, kita tidak hanya berinteraksi dengan beraneka kelompok etnik, daerah, budaya, ras, agama, kepakaran, dan profesi, tetapi hidup bersama dan bekerja sama dengan aneka kelompok tersebut. Agar mampu berinteraksi, berkomonikasi, bekerja sama dan hidup bersama antar kelompok dituntut belajar hidup bersama. Tiap kelompok memiliki latar belakang pendidikan, kebudayaan, tradisi, dan tahap perkembangan yang berbeda, agar bisa bekerjasama dan hidup rukun, mereka harus banyak belajar hidup bersama, being sociable (berusaha membina kehidupan bersama)

4. Belajar berkembang utuh (learning to be)
Tantangan kehidupan yang berkembang cepat dan sangat kompleks, menuntut pengembangan manusia secara utuh. Manusia yang seluruh aspek kepribadiannya berkembang secara optimal dan seimbang, baik aspek intelektual, emosi, sosial, fisik, maupun moral. Untuk mencapai sasaran demikian individu dituntut banyak belajar mengembangkan seluruh aspek kepribadiannya. Sebenarnya tuntutan perkembangan kehidupan global, bukan hanya menuntut berkembangnya manusia secara menyeluruh dan utuh, tetapi juga manusia utuh yang unggul. Untuk itu mereka harus berusaha banyak mencapai keunggulan (being excellence). Keunggulan diperkuat dengan moral yang kuat. Individu-individu global harus berupaya bermoral kuat atau being morally.


Sumber : http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/05/08/empat-pilar-belajar/
Diterbitkan Mei 8, 2008 kurikulum & pembelajaran

KPI Tetapkan 10 Tayangan TV Bermasalah

JAKARTA, JUMAT - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menetapkan 10 tayangan televisi (TV) yang dinilai bermasalah.

Berdasarkan evaluasi tim panelis yang diketuai oleh Arief Rahman, kesepuluh tayangan itu adalah Cinta Bunga (SCTV), Dangdut Mania Dadakan 2 (TPI), Extravaganza (Trans TV), Jelita (RCTI), Mask Rider Blade (ANTV), Mister Bego (ANTV), Namaku Mentari (RCTI), Rubiah (TPI), Si Entong (TPI), dan Super Seleb Show (Indosiar).

KPI meminta masyarakat untuk bijaksana dalam menyaksikan tayangan-tayangan tersebut karena kental sekali mengandung unsur-unsur kekerasan, baik fisik, sosial, maupun psikologis, dalam bentuk tindakan verbal nonverbal. Dalam tayangan-tayangan itu termuat pula pelecehan terhadap kelompok masyarakat maupun individu serta penganiayaan terhadap anak. Tayangan-tayangan tersebut juga tidak sesuai dengan norma-norma kesopanan dan kesusilaan.

Tim panelis melakukan evaluasi terhadap 198 tayangan (episode) dari 75 judul di sembilan stasiun TV, yaitu Indosiar, SCTV, TPI, RCTI, Global TV, ANTV, TVRI, Trans TV, dan Trans 7, dalam periode 1-13 April 2008. KPI juga berjanji akan terus memantau secara periodik dan memberi sanksi apabila stasiun-stasiun TV bersangkutan tidak melakukan perbaikan.


Sumber : Kompas online,  14:31 WIB  Jumat, 09 Mei 2008

Jenis - jenis Kesabaran

Oleh KH Abdullah Gymnastiar

BANYAK yang berpenampilan indah tetapi terhina, sebab dia tidak punya kesabaran, banyak orang yang akhirnya rugi padahal dia punya modal apa sebabnya karena dia tidak punya kesabaran. Banyak orang yang tergelincir ketika dilanda asmara dan tidak sabar, akibatnya rugi. Alangkah indahnya orang-orang yang diberi kesabaran.

Innalloha ma’ashoobiriin " Sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar (QS. 2; 153) " Sabar itu pahalanya bighoiri hisab, tiada terputus, maka sungguh aneh jikalau kita ingin dekat dengan Allah, ingin indah, ingin berpahala, ingin bahagia tapi tidak sabar, karena sabar itu kunci, kalau kita punya sabar maka kita akan punya pribadi yang indah, kalau kita punya sabar kita akan menjadi orang yang dekat dengan Allah, kalau kita punya sabar, kita akan mendapatkan ganjaran yang tiada terputus.

Setidaknya ada beberapa jenis kesabaran yang harus kita ketahui dalam hidup ini, yang pertama; Sabar ketika berkeinginan, kita ini kan hari-harinya dituntun oleh keinginan kalau tidak sabar keinginan inilah yang akan menjerumuskan kita. Jadi sabar yang pertama adalah meluruskan niat ketika kita punya keinginan.

Kita dikarunia Allah keinginan dan keinginan itulah yang menuntun sikap, kalau tidak sabar kita kehilangan niat, padahal niat adalah kunci diterimanya amal, ada orang yang cape pontang-panting, tapi tidak ada nilainya, karena apa? karena tidak sabar meluruskan niat,.. maka sebelum beramal wajib bagi kita untuk meluruskan niat, karena tanpa niat amal sia-sia.

Kadang orang tidak sibuk meluruskan niat tapi sibuk dengan perbuatannya, misalkan ingin membeli pakaian, kita harus bertanya dulu pada diri kita "perlukah saya membeli pakaian lagi, padahal dilemari masih banyak pakaian?" "Untuk Apa?" tapi kan ini warnanya kurang cocok ,….." kurang cocok kata siapa? "Jujur saja apakah warnanya kurang cocok ataukah ingin lagi? "Untuk apa memberatkan hisab, jikalau pakaian indah tapi kelakuan tidak indah tidak ada gunanya. Ketika sudah akan beli tanya lagi pada diri kita "benarkah kita beli sesuatu itu karena Allah atau karena ingin dipuji?” tanya.

Ingin menikah? Kita harus sabar untuk mengevaluasi dulu, kumpulkan informasi terlebih dahulu, studi kelayakan, pokoknya jika ingin sesuatu kumpulkan data terlebih dahulu. Sudah layakkah kita menikah? Jangan tergesa-gesa, renungkan dalam-dalam, kumpulkan informasi yang lengkap, bertanya kepada yang ahli, sebab kalau sudah ingin itu biasanya nafsu, kalau nafsu itu membutakan kebenaran. Kita harus sabar untuk bertanya, "benarkah niat saya ini? benarkah tujuan saya ini? mintalah petunjuk kepada Allah dengan shalat istikhoroh.

Lalu yang harus kita miliki kesabaran adalah Sabar Berproses , nah kita biasanya tidak sanggup untuk berproses, yang harus kita nikmati itu bukan hasil tetapi proses, karena yang jadi pahala itu proses, seperti membuat kue serabi misalnya; beras ditumbuk, lalu diayak, lalu marut kelapa, lalu diperas, lalu diolah, kemudian menyiapkan oncom untuk isinya, oncom digoreng, buat sambal oncom, belum lagi badan mengeluarkan keringat, tangan terparut, lalu harus menyiapkan pembakaran, kemudian setelah menjadi serabi? hanya sekejap saja makan dan menikmatinya begitu tidak sebanding dengan proses pembuatannya. Makanya rugi, kalau amal hanya ujungnya saja, karena bagi kita proseslah yang menjadi amal. Wallahu a’lam bish showab.

Sumber : Kolom Aa Gym, Harian Pontianak Post Harui Jumat, 09 Mei 2008

Senin, 05 Mei 2008

TEGAR

Oleh : Aang Gunawan

Pada suatu hari Rasulullah mengajak para sahabatnya berjalan-jalan ke luar Kota Makkah. Saat itu berbagai gangguan fisik terhadap Rasul dan sahabatnya mencapai titik klimaks. Penderitaan kian lengkap dengan wafatnya istri dan paman Rasulullah, dan diberlakukannya blokade ekonomi terhadap Bani Hasyim serta para sahabat Rasul.

Akibatnya mereka kekurangan pangan, kesehatan, dan terancam keselamatannya. Ketika Rasul dan para sahabat sampai ke suatu tempat dan beristirahat, berkata seorang sahabat, ''Ya Rasulullah, kita saat ini mengalami penderitaan yang luar biasa. Penyiksaan fisik sudah terbiasa kami alami, kekurangan makanan dan keselamatan melengkapi penderitaan kami. Bagaimana kalau untuk sementara kita hentikan dulu dakwah ini, kita bangun dulu perekonomian. Setelah kuat baru kita lanjutkan dakwah ini.''

Tidak lama berselang Allah SWT menurunkan wahyu sebagai jawaban terhadap keluhan sahabat tersebut. ''Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.'' (QS-Al Baqarah [2]: 195).

Dari kisah tersebut Allah memerintahkan kita meski dalam kondisi kekurangan harta, melonjaknya harga kebutuhan hidup, sulit mendapat pekerjaan, bahkan dalam kondisi keselamatan terancam, agar tetap tegar dan tidak berputus asa. Sebaliknya dengan harta dan kemampuan yang ada, kita dianjurkan tetap berbuat baik dengan menyedekahkan sebagian harta kita kepada orang lain. Apabila berkeluh kesah apalagi sampai berputus asa, berarti kita menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan.

Apabila kita tetap tegar dan bersabar atas berbagai krisis kehidupan, maka Allah memberikan balasan (pahala) dua kali lipat. Allah SWT berfirman, ''Kepada orang-orang itu diberikan pembalasan (pokok) dua kali lipat, disebabkan kesabaran mereka.'' (QS Al-Qashash [28]: 54).

Diriwayatkan oleh 'Atha' dari Ibnu Abbas, ketika Rasulullah SAW masuk ke tempat orang-orang Anshar, beliau bertanya, ''Apakah kamu semua orang beriman?" Mereka diam. Maka Umar menjawab, ''Ya, wahai Rasulullah!'' Nabi SAW bertanya, ''Apakah tandanya keimanan kamu itu?'' Mereka menjawab, ''Kami bersyukur atas kelapangan. Kami bersabar atas ujian. Dan kami rela dengan ketetapan Allah.'' Lalu Nabi SAW menjawab, ''Demi Tuhan pemilik Ka'bah! Benarlah kamu semua adalah orang beriman!''


Sumber: Kolom Hikmah (Harian Republika) tanggal 04 Maret 2008